Seri Bacan GLI Lab

Artikel 2

Sejarah Bacan: Dari Kesultanan Maluku hingga Demam Batu Akik Indonesia

Ditulis oleh Muchlis Kumar K., PG (IGS–USA) – Gemologist, GEMS Laboratory Indonesia

Jauh sebelum istilah “demam batu akik” dikenal masyarakat modern, nama Bacan sebenarnya telah lama melekat pada sebuah wilayah bersejarah di Maluku Utara.

Pulau Bacan bukan hanya dikenal sebagai daerah penghasil batu permata, tetapi juga merupakan bagian dari jaringan perdagangan rempah-rempah yang pernah menghubungkan Nusantara dengan dunia luar. Di kawasan inilah berbagai budaya, kerajaan, dan jalur perdagangan bertemu selama berabad-abad.

Nama “Bacan” yang kini identik dengan batu hijau terkenal sebenarnya berasal dari nama pulau dan wilayah kerajaan kuno yang berada di selatan Halmahera. Seiring waktu, nama geografis tersebut kemudian melekat pada batu permata yang ditemukan dan diperdagangkan dari kawasan tersebut.

Pada masa lalu, material Bacan belum dikenal luas sebagai batu koleksi nasional. Penggunaannya lebih banyak terbatas pada masyarakat lokal dan para pedagang yang mengenal keindahan warna hijaunya. Popularitasnya mulai meningkat secara bertahap ketika jalur perdagangan antarpulau membawa material tersebut ke berbagai pusat perdagangan batu di Indonesia.

Perkembangan terbesar terjadi pada awal dekade 2010-an ketika minat masyarakat terhadap batu akik meningkat secara luar biasa. Dalam periode tersebut, Bacan menjadi salah satu nama yang paling banyak dicari kolektor. Batu yang sebelumnya hanya dikenal di kalangan tertentu mendadak menjadi ikon nasional.

Ada beberapa alasan mengapa Bacan begitu cepat menarik perhatian pasar.

Pertama, warnanya unik. Tidak seperti banyak batu akik lain yang menampilkan pola atau motif, Bacan menawarkan warna hijau kebiruan yang sering kali tampak dalam dan hidup.

Kedua, tingkat transparansinya dapat sangat baik pada material berkualitas tinggi. Beberapa spesimen bahkan mendekati kualitas yang dalam perdagangan internasional dikenal sebagai “Gem Silica”, yaitu chrysocolla yang terdispersi dalam chalcedony dengan kejernihan tinggi.

Ketiga, munculnya berbagai cerita kolektor mengenai perubahan penampilan Bacan dari waktu ke waktu. Fenomena inilah yang kemudian melahirkan istilah populer seperti “batu hidup”, “batu tidur”, atau “sleeping stone”. Walaupun istilah tersebut berasal dari budaya kolektor dan bukan terminologi ilmiah, kisah-kisah tersebut ikut mendorong popularitas Bacan di pasar nasional.

Seiring meningkatnya perhatian dunia gemologi, berbagai penelitian mulai dilakukan terhadap material yang diperdagangkan sebagai Bacan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar Bacan berkualitas permata termasuk dalam kelompok chrysocolla-bearing chalcedony atau chrysocolla chalcedony, yaitu chalcedony mikrokristalin yang mengandung unsur atau inklusi chrysocolla sebagai penyebab warna hijau hingga biru kehijauan.

Menariknya, penelitian internasional juga menunjukkan bahwa material serupa ditemukan di beberapa negara lain. Namun nama “Bacan” tetap memiliki posisi khusus karena terkait langsung dengan asal geografis Indonesia yang menjadi salah satu sumber paling terkenal untuk chrysocolla chalcedony berkualitas permata.

Saat ini, meskipun euforia batu akik nasional telah berlalu, Bacan tetap mempertahankan statusnya sebagai salah satu batu permata paling ikonik yang pernah dimiliki Indonesia. Di kalangan kolektor serius, nama Bacan masih memiliki daya tarik tersendiri karena menggabungkan sejarah, kelangkaan, karakter visual unik, dan nilai ilmiah yang terus menarik untuk dipelajari.

Namun untuk benar-benar memahami Bacan, kita perlu kembali lebih jauh ke sumbernya.

Kita harus melihat bagaimana kondisi geologi Maluku Utara membentuk batu ini selama jutaan tahun.

Pada artikel berikutnya, kita akan memasuki dunia geologi Pulau Bacan dan memahami mengapa wilayah kecil di timur Indonesia ini mampu menghasilkan salah satu batu permata paling terkenal di Nusantara.

 

Seri Bacan GLI Lab

 

Ditulis oleh Muchlis Kumar K., PG (IGS–USA) – Gemologist, GEMS Laboratory Indonesia

GEMS Laboratory Indonesia Education Center 💎🔬✨
gems.labgli.com